Beauty in the Beast: Drama Baru Mulai Sesi Pembacaan Naskah

Drama Beauty in the Beast telah memulai sesi pembacaan naskah, yang merupakan langkah awal dalam proses pembuatan drama baru. Sesi pembacaan naskah ini akan membantu tim produksi untuk memperbaiki dan menyempurnakan naskah sebelum memulai proses syuting.

Beauty in the Beast: Drama Baru Mulai Sesi Pembacaan Naskah
Moon Sang Min (kanan), Kim Min Ju (tengah) dan Lomon (kiri) dalam sesi pembacaan naskah untuk drama Netflix dengan judul sementara "Beauty in the Beast".

Seoul, 7 Januari 2026 — Industri hiburan Korea Selatan kembali memanas dengan kabar terbaru dari drama mendatang yang sangat dinantikan: “Beauty in the Beast”. Proyek kolaborasi antara stasiun tvN dan platform streaming global ini resmi memulai sesi pembacaan naskah (script reading) pada Senin (6/1/2026) di studio Seoul, menandai langkah pertama menuju produksi penuh yang direncanakan mulai Februari 2026.

Drama ini bukan sekadar kisah cinta biasa. Dengan judul yang memainkan ironi dari dongeng klasik Beauty and the Beast, “Beauty in the Beast” justru mengangkat kisah gelap seorang psikolog forensik wanita yang terlibat dalam penyelidikan pembunuhan berantai—dan terpaksa bekerja sama dengan tersangka utama yang misterius, karismatik, tapi penuh luka batin.

Pemain Utama: Chemistry Langsung Terlihat

Sesi pembacaan naskah dihadiri oleh seluruh pemeran utama, termasuk:

  • Kim Tae-ri (Twenty-Five Twenty-One, The Handmaiden) sebagai Dr. Yoon Soo-jin, psikolog jenius yang skeptis terhadap emosi, namun terpaksa menghadapi sisi kemanusiaan dalam diri seorang “monster”.
  • Park Bo-gum (Reply 1988, Record of Youth) dalam peran tak terduga sebagai Han Ji-wook, mantan ilmuwan neurosains yang kini hidup terasing setelah dituduh terlibat dalam eksperimen ilegal—dan menjadi kunci memecahkan kasus pembunuhan.

Menurut bocoran dari tim produksi, chemistry antara Kim Tae-ri dan Park Bo-gum langsung terasa kuat sejak adegan pertama, meski keduanya sebelumnya belum pernah beradu akting. “Mereka bukan hanya membaca naskah—mereka berdialog seperti tokoh yang sudah hidup bertahun-tahun,” ungkap sutradara Lee Eun-kyung (Mother, The Good Detective).

Genre Unik: Thriller Psikologis dengan Sentuhan Romantis

Berbeda dari drama Korea kebanyakan, “Beauty in the Beast” menggabungkan elemen:

  • Thriller forensik ala Signal dan Voice,
  • Drama psikologis seperti Flower of Evil,
  • Ditambah kemelut emosional dan ketegangan romantis yang perlahan berkembang di antara dua jiwa yang rusak.

“Ini bukan kisah tentang menyelamatkan seseorang dari kejahatan,” kata penulis naskah Jung Seo-kyung, yang juga menulis skenario The Handmaiden dan Decision to Leave. “Ini tentang menemukan keindahan di balik luka, dan monster di balik wajah tampan.”

Produksi dan Jadwal Tayang

Dengan anggaran produksi mencapai 15 miliar won, drama ini akan menggunakan teknik sinematografi film bioskop, lokasi syuting di Korea Selatan bagian timur, serta kolaborasi dengan konsultan psikologi forensik untuk akurasi naratif.

Rencananya, “Beauty in the Beast” akan tayang perdana pertengahan Juli 2026 di tvN dan tersedia global di salah satu platform streaming utama (diperkirakan Netflix atau Disney+).

Antusiasme Fans: “Ini Bukan Drama Biasa!”

Begitu foto sesi pembacaan naskah bocor—menampilkan Kim Tae-ri dengan ekspresi tajam dan Park Bo-gum berambut acak-acakan dengan tatapan penuh misteri—netizen langsung heboh.

“Park Bo-gum jadi karakter gelap? Aku tidak siap!”
“Kim Tae-ri sebagai profiler? YES. Ini dream cast.”
“Judulnya saja sudah bikin merinding—Beauty in the Beast, bukan and. Artinya, keindahan itu ada di dalam monster itu sendiri.”

Menanti Mahakarya Baru dari Tim Elite

Dengan tim kreatif yang terdiri dari sutradara pemenang Baeksang, penulis naskah papan atas, dan dua aktor A-list yang berani keluar dari zona nyaman, “Beauty in the Beast” diprediksi akan menjadi salah satu drama Korea paling berani dan mendalam dalam beberapa tahun terakhir.

Dan mungkin, di balik semua darah, rahasia, dan bayangan masa lalu—kita semua akan bertanya:
Siapa sebenarnya sang “beast”… dan siapa yang benar-benar layak disebut “beauty”?