Gaji Naik, Tapi Masyarakat Masih Tertekan: Apa yang Salah?
Menurut para ekonom, kesenjangan antara data makroekonomi dan realitas rumah tangga disebabkan oleh beberapa faktor struktural dan persepsi yang tak bisa diukur hanya dengan angka rata-rata nasional.
Jakarta, Di tengah kabar gembira bahwa rata-rata kenaikan upah dan gaji pada 2025 melampaui angka inflasi nasional—yang tercatat sekitar 2,8%—banyak masyarakat justru masih merasa tekanan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari. Fenomena ini memunculkan pertanyaan: jika penghasilan naik lebih tinggi dari inflasi, mengapa daya beli masyarakat tetap terasa sempit?
Menurut para ekonom, kesenjangan antara data makroekonomi dan realitas rumah tangga disebabkan oleh beberapa faktor struktural dan persepsi yang tak bisa diukur hanya dengan angka rata-rata nasional.
1. Inflasi yang Tidak Merata
Meski inflasi nasional tergolong rendah, kenaikan harga barang kebutuhan pokok—seperti beras, telur, minyak goreng, dan bahan bakar—jauh melampaui rata-rata. Misalnya, harga telur ayam naik hingga 12% sepanjang 2025, sementara tarif listrik dan air bersih juga mengalami penyesuaian. “Yang dirasakan masyarakat bukan inflasi umum, tapi inflasi keranjang belanja rumah tangga,” jelas Dr. Lina Marlina, ekonom dari Universitas Indonesia.
2. Ketimpangan Pendapatan
Kenaikan gaji yang “lebih tinggi dari inflasi” sering kali hanya dinikmati segmen pekerja formal di sektor perkantoran, BUMN, atau korporasi besar. Sementara itu, mayoritas pekerja informal—seperti pedagang kaki lima, ojek online, buruh harian—tidak mendapatkan kenaikan signifikan, bahkan banyak yang pendapatannya stagnan atau turun akibat lesunya permintaan.
3. Beban Biaya Hidup yang Lebih Luas
Di luar inflasi harga barang, masyarakat kini menghadapi peningkatan biaya pada sektor-sektor esensial: pendidikan, kesehatan, transportasi, hingga biaya digital (paket internet, langganan layanan). “Orang mungkin bisa membeli beras, tapi tidak mampu membayar kacamata anak atau biaya kursus daring,” ungkap Rizky Pratama, peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF).
4. Efek Psikologis dan Ekspektasi
Ketika pandemi berakhir dan aktivitas normal kembali, masyarakat cenderung membandingkan kondisi saat ini dengan masa pra-pandemi—bukan dengan tahun sebelumnya. Harapan akan pemulihan penuh membuat kenaikan gaji 5–7% terasa kurang memadai, apalagi jika dibandingkan dengan biaya hidup di kota besar yang terus meroket.
5. Utang Konsumtif yang Meningkat
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat lonjakan pinjaman konsumen melalui fintech dan kartu kredit sepanjang 2025. Banyak rumah tangga mengandalkan utang untuk memenuhi kebutuhan bulanan, yang justru memperparah tekanan keuangan jangka panjang—meski gaji nominal naik.
Apa Solusinya?
Para ahli menyarankan agar kebijakan ekonomi tidak hanya fokus pada angka makro, tapi juga memperkuat jaring pengaman sosial, memperluas perlindungan bagi pekerja informal, serta mengendalikan harga pangan melalui rantai distribusi yang efisien. Di sisi individu, literasi keuangan dan perencanaan anggaran rumah tangga menjadi kunci untuk bertahan di tengah ketidakpastian.
“Angka pertumbuhan ekonomi dan inflasi memang penting, tapi yang lebih penting adalah bagaimana rakyat benar-benar merasakannya,” tutup Lina.