Cloudflare Down: Sejumlah Situs dan Medsos Tidak Bisa Diakses

Gangguan ini terjadi secara global dan menyebabkan banyak pengguna yang tidak bisa mengakses situs dan medsos favorit mereka. Penyebab gangguan ini masih belum diketahui, tetapi Cloudflare sedang bekerja untuk memperbaiki masalah ini.

Cloudflare Down: Sejumlah Situs dan Medsos Tidak Bisa Diakses

Gangguan besar melanda dunia internet global pada Sabtu pagi (5/1/2026) ketika Cloudflare, salah satu penyedia layanan infrastruktur internet terbesar di dunia, mengalami downtime masif. Akibat insiden ini, ribuan situs web, platform media sosial, layanan e-commerce, dan aplikasi populer tidak bisa diakses selama hampir dua jam—dari pukul 08.15 hingga 10.05 WIB.

Pengguna di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, melaporkan error seperti "502 Bad Gateway", "ERR_CONNECTION_TIMED_OUT", atau layar putih saat mencoba mengakses layanan seperti Discord, Reddit, OKX, Canva, Shopify, hingga beberapa situs berita dan platform pemerintahan yang menggunakan infrastruktur Cloudflare.

Apa Itu Cloudflare?

Cloudflare bukan situs atau aplikasi biasa—melainkan perantara (proxy) dan jaringan keamanan yang melindungi serta mempercepat akses ke jutaan situs web. Fungsinya seperti “tameng” yang menyaring lalu lintas internet, mencegah serangan siber, dan mendekatkan konten ke pengguna lewat jaringan CDN (Content Delivery Network).

BACA JUGA: Revolusi Kekayaan: AI Cetak 50 Miliarder Baru di 2025

Lebih dari 20% situs web di dunia—termasuk banyak platform teknologi ternama—mengandalkan Cloudflare. Artinya, ketika Cloudflare bermasalah, efeknya bisa mengguncang separuh internet.

Penyebab Gangguan: Masalah Konfigurasi Internal

Dalam pernyataan resmi yang dirilis pukul 10.30 WIB, Cloudflare mengonfirmasi bahwa penyebab utama gangguan adalah kesalahan konfigurasi dalam sistem jaringan inti (core network) yang terjadi selama pembaruan rutin.

“Kesalahan konfigurasi menyebabkan lalu lintas internal tidak terarah dengan benar, sehingga server kami gagal merespons permintaan dari pengguna akhir,” tulis tim teknis Cloudflare di blog resminya.

Mereka menegaskan tidak ada indikasi serangan siber atau peretasan. Gangguan bersifat teknis murni dan telah diselesaikan dengan rollback konfigurasi ke versi stabil.

Dampak Global: dari Gaming hingga Layanan Publik

Di Indonesia, banyak pengguna melaporkan tidak bisa mengakses:

  • Discord (populer di kalangan gamer dan komunitas digital),
  • Canva (alat desain online yang banyak dipakai pelajar dan pekerja kreatif),
  • Beberapa marketplace lokal yang menggunakan domain terlindungi Cloudflare,
  • Bahkan beberapa aplikasi perbankan digital yang mengandalkan API berbasis Cloudflare sempat mengalami perlambatan.

Sementara di luar negeri, situs seperti Coinbase, Polygon, dan bahkan bagian dari layanan pemerintah AS juga terdampak.

Reaksi Warganet: Panik, Frustrasi, hingga Meme

Media sosial langsung dipenuhi keluhan. Tagar #CloudflareDown dan #InternetDown sempat trending di X (Twitter) global. Banyak yang bercanda:

“Jadi begini rasanya hidup di dunia nyata.”
“Cloudflare mati = separuh otak internet mati.”

Namun, di balik candaan, banyak pekerja remote, pelaku UMKM, dan konten kreator merugi karena tidak bisa mengakses alat kerja utama mereka selama lebih dari 100 menit.

Pelajaran Penting: Ketergantungan pada Infrastruktur Tunggal

Insiden ini kembali menyoroti risiko tingginya konsentrasi infrastruktur digital global pada segelintir perusahaan seperti Cloudflare, AWS, atau Google Cloud. Ketika salah satu “tulang punggung” ini gagal, seluruh ekosistem digital ikut limbung.

Pakar keamanan siber dari ITB, Dr. Budi Santosa, mengingatkan:

“Ini bukan pertama kalinya. Tapi setiap kali terjadi, kita diingatkan: internet itu rapuh. Perlu diversifikasi infrastruktur dan rencana darurat yang lebih matang—terutama untuk layanan kritis.”

Cloudflare: Minta Maaf dan Janji Evaluasi

Cloudflare telah meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi dan berjanji akan:

  • Memperketat prosedur pembaruan sistem,
  • Meningkatkan mekanisme deteksi kesalahan otomatis,
  • Menerbitkan laporan transparansi penuh dalam 72 jam.

Untuk saat ini, seluruh layanan telah kembali normal. Namun, bayangan kerentanan internet global masih menggantung—mengingatkan kita semua bahwa kemajuan digital yang kita nikmati setiap hari, ternyata bisa runtuh hanya karena satu baris kode yang salah.