Cerita Gen Z: Nabung Niatnya Ada, tapi Kenapa Selalu Gagal?
Niat nabung tiap awal bulan tuh kuat banget. Tapi pas gajian, langsung kepecah buat bayar cicilan, makan, recharge GoPay, terus lihat promo Shopee.
Di usia yang masih muda, banyak anak Gen Z (lahir antara 1997–2012) sebenarnya sudah melek finansial. Mereka tahu pentingnya menabung, bahkan sering membagikan budgeting tips di media sosial, mengunduh aplikasi keuangan, atau menonton konten “how to save money like a pro”. Tapi ironisnya, ketika akhir bulan tiba, saldo tabungan masih jauh dari target—atau bahkan kosong sama sekali.
“Niat nabung tiap awal bulan tuh kuat banget. Tapi pas gajian, langsung kepecah buat bayar cicilan, makan, recharge GoPay, terus lihat promo Shopee... eh, udah abis,” keluh Raka, 24, pekerja kreatif di Jakarta.
Lalu, apa yang sebenarnya membuat niat menabung Gen Z sering kandas di tengah jalan?
1. Gaya Hidup Digital yang Mahal
Gen Z tumbuh di era digital, di mana hampir semua aspek kehidupan—dari hiburan hingga transportasi—bergantung pada aplikasi berbayar. Langganan streaming (Netflix, Spotify, Disney+), in-app purchases di game, makanan via delivery, hingga belanja online sering terasa “murah” karena transaksinya instan dan tanpa uang tunai. Padahal, akumulasi pengeluaran ini bisa mencapai 30–40% dari penghasilan bulanan.
2. Tekanan Sosial & FOMO (Fear of Missing Out)
Media sosial memperkuat tekanan untuk “tampil layak” di depan teman. Mau tidak ikut weekend getaway, café hopping, atau beli barang branded terbaru? Bisa-bisa dianggap “ketinggalan zaman” atau “pelit”. “Kadang aku rela makan nasi sama telur seminggu, cuma buat foto di kafe kekinian biar feed-nya aesthetic,” akui Dinda, 22, mahasiswa semester akhir.
3. Penghasilan Tidak Stabil
Banyak Gen Z yang bekerja sebagai freelancer, content creator, atau pegawai kontrak dengan pendapatan fluktuatif. Saat penghasilan tinggi, mereka cenderung konsumtif; saat lesu, justru harus meminjam atau menarik tabungan darurat. “Gak ada gaji tetap, jadi susah bikin anggaran pasti. Nabung jadi prioritas terakhir,” ujar Aldi, 26, ilustrator lepas.
4. Mindset “Masih Muda, Nanti Aja Nabungnya”
Meski tahu menabung itu penting, banyak Gen Z masih menganggap keuangan jangka panjang—seperti dana pensiun atau investasi—adalah urusan “nanti”. Padahal, kebiasaan kecil menabung sejak dini justru memberi efek compounding yang besar di masa depan.
5. Kurangnya Edukasi Praktis Soal Keuangan
“Di sekolah diajarin rumus matematika rumit, tapi nggak pernah diajarin cara bikin anggaran bulanan,” kata Rani, 23. Banyak Gen Z mengandalkan trial and error, yang sering berujung pada keputusan impulsif atau utang.
Lalu, Bagaimana Solusinya?
Pakar keuangan menyarankan pendekatan yang realistis dan menyenangkan:
- Bayar diri sendiri dulu: Sisihkan 10–20% gaji di hari pertama gajian, sebelum uang digunakan untuk apa pun.
- Gunakan sistem “dompet digital terpisah”: Manfaatkan fitur tabungan otomatis di aplikasi e-wallet atau bank digital.
- Tetapkan tujuan spesifik: Misalnya, “nabung Rp500 ribu/bulan buat liburan akhir tahun” lebih memotivasi daripada “nabung aja dulu”.
- Batasi notifikasi promo: Matikan notifikasi belanja online agar tidak tergoda setiap hari.
Yang terpenting, Gen Z perlu memahami: gagal menabung bukan berarti gagal mengatur uang. Ini proses belajar. Dan setiap langkah kecil—meski hanya Rp10 ribu sehari—adalah bentuk kemenangan atas budaya konsumsi instan.
Seperti kata Raka dengan senyum kecil, “Mungkin bulan ini gagal lagi... tapi besok, aku mulai lagi. Dari nol.”