Pabrik iPhone di China Diserang oleh Hacker, Produksi iPhone Terancam Terganggu!

Menurut sumber internal yang dekat dengan penyelidikan, serangan tersebut terjadi pada sistem manajemen produksi (MES) dan logistik pabrik.

Pabrik iPhone di China Diserang oleh Hacker, Produksi iPhone Terancam Terganggu!
Orang-orang yang memakai masker wajah menggunakan smartphone mereka untuk memindai kode QR pemeriksaan kesehatan mereka sebelum memasuki Apple Store di Beijing

Shanghai, 2026 — Guncangan besar menggoyang rantai pasok global Apple setelah salah satu pabrik perakitan iPhone terbesar di China, yang dioperasikan oleh Foxconn di wilayah Zhengzhou, dilaporkan menjadi sasaran serangan siber canggih. Insiden ini berpotensi mengganggu produksi iPhone seri terbaru—tepat di saat permintaan global sedang memuncak menjelang musim belanja akhir tahun.

Serangan Siber Skala Tinggi

Menurut sumber internal yang dekat dengan penyelidikan, serangan tersebut terjadi pada sistem manajemen produksi (MES) dan logistik pabrik. Para hacker—yang diduga berasal dari kelompok peretas berbasis di Asia Timur—berhasil menyusup melalui celah keamanan di sistem pihak ketiga yang terhubung ke jaringan internal pabrik. Mereka tidak mencuri data pengguna, melainkan mengenkripsi sistem kontrol lini produksi dan meminta tebusan dalam bentuk cryptocurrency.

“Ini bukan serangan biasa. Mereka menargetkan just-in-time manufacturing—jantung operasional Foxconn,” ungkap seorang pejabat keamanan siber yang enggan disebut namanya. “Tanpa akses ke sistem penjadwalan komponen dan perakitan, lini produksi bisa berhenti total dalam hitungan jam.”

Dampak Langsung: Rantai Pasok Terhenti

Pabrik Zhengzhou memproduksi lebih dari 60% iPhone global, termasuk model iPhone 17 Pro yang baru saja diluncurkan. Akibat serangan ini, Apple terpaksa menghentikan sementara operasi di dua lini produksi utama. Pengiriman komponen dari pemasok seperti TSMC, LG Innotek, dan Lens Technology juga tertunda karena sistem koordinasi logistik lumpuh.

Beberapa analis memperkirakan keterlambatan pengiriman iPhone bisa mencapai 2–3 minggu, berpotensi merugikan Apple hingga ratusan juta dolar AS dalam pendapatan. Saham Apple turun 2,3% dalam perdagangan sesi Asia, sementara saham Foxconn di Hong Kong anjlok lebih dari 5%.

Apple Bereaksi Cepat, tapi Tantangan Masih Besar

Apple segera mengaktifkan protokol darurat:

  • Tim keamanan siber internal dikerahkan ke Zhengzhou.
  • Sistem produksi dialihkan ke mode manual sementara.
  • Kolaborasi dengan otoritas China dan firma keamanan global seperti CrowdStrike dan Palo Alto Networks dipercepat untuk melacak asal serangan.

Namun, tantangan terbesar bukan hanya memulihkan sistem—tapi memastikan tidak ada backdoor tersembunyi yang bisa digunakan untuk serangan lanjutan. “Ini adalah uji coba nyata terhadap ketahanan infrastruktur manufaktur global di era AI dan otomasi,” kata Dr. Lin Mei, pakar keamanan rantai pasok dari Tsinghua University.

Pertanyaan Besar: Siapa di Balik Serangan Ini?

Meski belum ada kelompok yang mengklaim tanggung jawab, pola serangan mengarah pada aktor yang memiliki motivasi ekonomi atau geopolitik. Beberapa spekulasi menyebut kemungkinan keterlibatan kelompok ransomware profesional seperti LockBit atau BlackCat. Namun, ada juga kekhawatiran bahwa serangan ini merupakan bagian dari strategi gangguan ekonomi oleh negara aktor, di tengah ketegangan perdagangan AS-China yang terus memanas.

Pelajaran untuk Industri Global

Insiden ini menjadi pengingat keras: pabrik fisik kini sama rentannya dengan sistem digital. Perusahaan teknologi global harus berinvestasi lebih besar dalam cyber-physical security—bukan hanya melindungi data, tapi juga mesin, sensor, dan jaringan yang menggerakkan produksi nyata.

Bagi konsumen, ancaman ini bisa berarti kenaikan harga iPhone atau kelangkaan model tertentu dalam beberapa pekan ke depan. Tapi bagi industri, ini adalah alarm yang tak bisa diabaikan: di era keterhubungan total, keamanan siber bukan lagi opsional—tapi fondasi kelangsungan bisnis.