Lift: Film yang Menghadirkan Tekanan Klaustrofobik dan Horor, Rilis di Bioskop 26 Februari

Film Lift merupakan film horor yang menghadirkan tekanan klaustrofobik yang menghantui. Film ini menceritakan tentang seorang karakter yang terjebak dalam lift dan harus menghadapi berbagai macam horor.

Lift: Film yang Menghadirkan Tekanan Klaustrofobik dan Horor, Rilis di Bioskop 26 Februari
Poster film Lift yang dijadwalkan tayang di bioskop pada 26 Februari 2026.

Jakarta, 6 Januari 2026 — Dunia perfilman Indonesia kembali dikejutkan dengan kehadiran film horor psikologis terbaru berjudul “Lift”, yang dijanjikan akan menguji batas ketahanan mental penonton lewat atmosfer tegang, ruang sempit, dan ketakutan yang sangat personal: klaustrofobia.

Film yang disutradarai oleh Raka Aryaputra—sang maestro di balik “Rasuk” dan “Sewu Dino”—ini akan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia pada 26 Februari 2026. Trailernya yang dirilis pekan lalu langsung memicu diskusi hangat di media sosial, terutama karena tidak ada adegan lompat seram (jump scare) berlebihan, melainkan tekanan psikologis yang terus memuncak sejak menit pertama.

Sinopsis: Terjebak di Antara Lantai 13 dan 14

“Lift” mengisahkan lima orang asing yang tak sengaja terjebak dalam lift gedung perkantoran tua di Jakarta Pusat. Awalnya, mereka hanya menganggap ini gangguan teknis biasa—sampai sistem komunikasi mati, lampu berkedip, dan suhu di dalam lift tiba-tiba turun drastis.

Yang membuat situasi makin mencekam: lift itu tak pernah berhenti di lantai mana pun. Layar digital terus berubah antara “13” dan “14”—dua lantai yang konon tidak pernah ada dalam denah resmi gedung tersebut.

Perlahan, rahasia masa lalu masing-masing karakter terungkap. Ternyata, mereka semua memiliki koneksi tak kasatmata—dan keberadaan mereka di lift itu bukan kebetulan. Sesuatu—atau seseorang—sengaja mengumpulkan mereka. Dan satu per satu, mereka mulai menghilang… tanpa jejak.

Pendekatan Horor Minimalis yang Menohok

Berbeda dengan film horor mainstream yang mengandalkan hantu bergaun putih atau efek CGI berlebihan, “Lift” mengusung konsep “horor konfinemen” (confinement horror)—genre yang populer lewat film seperti “Buried” (2010) atau “The Platform” (2019).

“Ketakutan terbesar manusia bukan pada hantu, tapi pada kehilangan kendali atas ruang dan waktu,” ujar Raka Aryaputra dalam konferensi pers virtual. “Di sini, kita tidak bisa lari. Tidak ada pintu darurat. Hanya dinding logam, suara derit, dan suara napas sendiri yang makin cepat.”

Untuk memperkuat sensasi klaustrofobik, seluruh adegan utama difilmkan di replika lift berukuran asli (1,2 x 1,5 meter). Para pemain—termasuk Laura Basuki, Arifin Putra, dan Ratu Felisha—harus berakting dalam ruang sempit selama berjam-jam, tanpa cut.

Sound Design dan Musik: Senjata Utama Film

Salah satu poin paling dipuji dalam trailer adalah desain suara yang mendebarkan: detak jam, gemeretak kabel, suara tetesan air, hingga bisikan samar dalam bahasa Jawa kuno. Semua dirancang oleh tim sound internasional yang pernah bekerja di film “The Conjuring” dan “Hereditary”.

Skor musik asli digarap oleh Aghi Narottama, yang menggunakan instrumen logam bekas lift dan gesekan kabel baja untuk menciptakan nada-nada “tidak wajar” yang menusuk psikologis.

Antisipasi Tinggi dari Penonton

Sejak poster pertama dirilis—menampilkan siluet lima orang dalam lift gelap dengan bayangan keenam di atap—fans horor sudah membanjiri media sosial dengan teori dan analisis. Banyak yang menyebut “Lift” berpotensi jadi film horor Indonesia paling inovatif sejak “KKN di Desa Penari”.

“Ini bukan cuma film. Ini pengalaman sensorik,” komentar seorang netizen di Twitter.

Siap Uji Nyali?

“Lift” akan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 26 Februari 2026, dalam format 2D dan Dolby Atmos. Produser menyarankan penonton dengan riwayat klaustrofobia, gangguan kecemasan, atau penyakit jantung untuk berkonsultasi terlebih dahulu—karena film ini dirancang untuk membuat jantung berdebar, napas tersengal, dan tangan berkeringat.

Bagi pencinta horor yang bosan dengan formula lama, “Lift” bukan hanya film—tapi tantangan.
Dan pertanyaannya bukan “siapa yang akan selamat?”
Tapi… apakah kamu sanggup bertahan sampai layar gelap?