Kecelakaan Maut di Resor Ski Jepang: Bocah 5 Tahun Tewas Terjepit Travelator

Sebuah tragedi terjadi di resor ski Jepang ketika seorang bocah 5 tahun tewas terjepit travelator. Kecelakaan ini menyebabkan kematian bocah tersebut dan menyebabkan kekhawatiran di kalangan masyarakat.

Kecelakaan Maut di Resor Ski Jepang: Bocah 5 Tahun Tewas Terjepit Travelator

Nagano, Jepang — Dunia pariwisata musim dingin Jepang diguncang tragedi memilukan. Seorang bocah laki-laki berusia 5 tahun tewas setelah terjepit di antara travelator (lift berjalan miring) dan dinding di sebuah resor ski terkenal di Prefektur Nagano, Sabtu (3/1/2026). Insiden ini memicu kecaman publik, investigasi mendadak oleh otoritas keselamatan, dan penutupan sementara fasilitas terkait di resor tersebut.

Kronologi Tragis di Tengah Libur Musim Dingin

Menurut laporan polisi setempat, kecelakaan terjadi sekitar pukul 11.30 siang waktu setempat, saat keluarga korban—wisatawan asal Singapura—sedang menikmati liburan ski di Resor Shiga Kogen, salah satu kawasan ski terbesar di Jepang dan lokasi Olimpiade Musim Dingin 1998.

Sang bocah, yang belum disebutkan namanya, sedang berjalan bersama orang tuanya di travelator miring yang menghubungkan area parkir ke puncak bukit ski. Tiba-tiba, bagian jaket tebal berwarna merahnya tersangkut di celah antara ban berjalan dan panel samping logam. Sebelum sempat ditarik, tubuhnya tertarik masuk dan terjepit kuat.

Petugas keamanan resor langsung mematikan sistem dan memanggil ambulans, namun nyawa bocah malang itu tidak tertolong. Ia dinyatakan meninggal dunia di lokasi akibat cedera parah pada dada dan kepala.

Resor Langsung Tutup Fasilitas, Otoritas Turun Tangan

Pihak manajemen resor segera menutup seluruh travelator dan lift ski terkait, serta mengeluarkan pernyataan permohonan maaf mendalam. “Kami sangat berduka atas kehilangan tak tergantikan ini. Keselamatan tamu adalah prioritas utama kami,” demikian pernyataan tertulis dari Shiga Kogen Ski Resort.

Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata Jepang (MLIT) langsung membentuk tim inspeksi darurat untuk menyelidiki standar keselamatan travelator di seluruh resor ski nasional. Investigasi awal menunjukkan bahwa celah di sisi travelator melebihi batas aman yang diizinkan—yakni lebih dari 4 mm, yang bisa membahayakan pakaian longgar atau aksesori anak-anak.

Peringatan Global: Bahaya Travelator bagi Anak-Anak

Insiden ini mengingatkan kembali pada kecelakaan serupa di berbagai negara, termasuk di Tiongkok (2015) dan Perancis (2019), di mana anak-anak tewas terjepit di eskalator atau travelator akibat pakaian atau tali tas yang tersangkut.

Ahli keselamatan publik, Dr. Kenji Sato dari Universitas Tokyo, mengatakan:

“Travelator di area ski seringkali memiliki sudut miring curam dan kecepatan tinggi. Jika tidak dilengkapi pelindung samping otomatis atau sensor deteksi hambatan, risiko bagi anak-anak sangat tinggi—terutama saat memakai jaket tebal, syal, atau sarung tangan longgar.”

Keluarga Korban: “Kami Hanya Ingin Liburan yang Bahagia”

Dalam wawancara singkat dengan media Singapura, orang tua korban—yang meminta identitas dirahasiakan—hanya bisa menangis. “Kami datang ke sini untuk mengenalkan salju pada anak kami… bukan untuk membawanya pulang dalam peti,” ujar sang ibu, suaranya patah.

Kedutaan Besar Singapura di Tokyo telah memberikan pendampingan konsuler dan membantu proses repatriasi jenazah.

Seruan untuk Standar Keselamatan yang Lebih Ketat

Insiden ini memicu gelombang seruan dari komunitas orang tua dan aktivis keselamatan anak di Asia, agar semua fasilitas umum—terutama di destinasi wisata—dilengkapi sensor otomatis, pelindung samping rapat, dan peringatan visual untuk orang tua.

Sementara itu, pemerintah Jepang berjanji akan merevisi regulasi keselamatan travelator dalam 30 hari, termasuk wajib uji berkala dan batas maksimal celah 3 mm.

Tragedi di Nagano menjadi pengingat pilu: di balik keindahan salju dan keseruan liburan musim dingin, keselamatan—terutama bagi anak-anak—tidak boleh dikompromikan demi kenyamanan atau kecepatan.