Michael B. Jordan Mengaku Butuh Terapi Usai Berperan di "Black Panther"
Michael B. Jordan mengaku bahwa ia butuh terapi setelah bintangi film "Black Panther". Ia mengatakan bahwa perannya sebagai Erik Killmonger dalam film tersebut memiliki efek psikologis yang signifikan pada dirinya.
Los Angeles, 6 Januari 2026 — Aktor Hollywood Michael B. Jordan membuka diri secara jujur dalam wawancara eksklusif dengan Variety edisi Januari 2026, mengungkap bahwa ia membutuhkan terapi psikologis setelah memerankan sosok Killmonger di film Black Panther (2018)—sebuah peran yang dianggap sebagai titik balik dalam kariernya, tapi juga meninggalkan luka emosional yang tak terduga.
“Killmonger itu bukan karakter yang bisa ‘dilepas’ begitu saja setelah ‘cut’,” ujar Jordan, kini 39 tahun. “Dia hidup di dalam kepala saya berbulan-bulan—bahkan bertahun-tahun. Saya perlu bantuan profesional untuk kembali ke diri saya sendiri.”
Terlalu Masuk ke Karakter, Sampai Lupa Diri
Dalam film Black Panther garapan Ryan Coogler, Jordan memerankan Erik Killmonger, penjahat karismatik yang motivasinya—meski ekstrem—berakar pada trauma kolonialisme, ketidakadilan rasial, dan kehilangan identitas. Adegan monolognya yang menyayat hati—“Bury me in the ocean, with my ancestors that jumped from the ships…”—masih dikutip hingga hari ini sebagai salah satu momen paling kuat dalam sejarah MCU.
Namun, Jordan mengungkap bahwa untuk benar-benar memahami Killmonger, ia harus menggali luka pribadinya sendiri tentang ras, keadilan, dan kemarahan yang tertahan. Ia menonton dokumenter soal perbudakan, berbicara dengan aktivis Black Lives Matter, bahkan mengunjungi situs bersejarah di Afrika Barat.
“Saya menyerap semua itu. Dan tanpa sadar, energi kemarahan Killmonger mulai membaur dengan emosi saya sehari-hari,” kenangnya. “Saya jadi lebih tertutup, lebih defensif, bahkan pada orang terdekat.”
Titik Balik: Saat Ia Sadar Butuh Bantuan
Yang menjadi pemicu utama adalah reaksi publik. Meski Killmonger dipuji sebagai salah satu penjahat paling kompleks dalam film superhero, banyak penonton—terutama anak-anak—benar-benar membencinya. Jordan menerima hujatan di media sosial, bahkan ancaman, hanya karena memerankan tokoh fiksi.
“Saya mulai merasa bersalah. Seolah-olah saya benar-benar jahat,” ungkapnya. “Padahal saya hanya aktor. Tapi batas itu kabur.”
Puncaknya, setelah syuting Black Panther: Wakanda Forever (2022)—di mana karakter Killmonger kembali dalam adegan kilas balik—Jordan mengalami serangan panik ringan saat sedang berbelanja di supermarket. Saat itulah ia memutuskan untuk mencari terapis khusus untuk aktor yang mengalami ‘identity bleed’—istilah untuk ketika peran terlalu melekat pada identitas pribadi.
Terapi dan Pemulihan: Kembali ke Diri Sendiri
Dalam sesi terapi, Jordan belajar teknik “ritual pelepasan”: setelah syuting, ia akan mandi air hangat, menulis jurnal, dan secara simbolis “melepas” peran tersebut. Ia juga mulai membatasi seberapa dalam ia menyatu dengan karakter—terutama yang penuh amarah atau trauma.
“Sekarang saya tahu: menjadi aktor hebat bukan berarti menghancurkan diri sendiri,” katanya. “Saya bisa tetap autentik tanpa kehilangan jiwa.”
Pesan untuk Sesama Aktor Muda
Jordan kini aktif mendukung inisiatif kesehatan mental di industri hiburan. Ia bahkan menyediakan dana bantuan terapi gratis untuk aktor muda di bawah perusahaannya, Outlier Society.
“Jangan malu cari bantuan. Karakter yang hebat lahir dari emosi nyata—tapi kamu harus punya tempat aman untuk kembali setelah selesai berakting,” pesannya.
Bagi jutaan fans, Michael B. Jordan tetap pahlawan—baik sebagai Killmonger yang tragis maupun sebagai pribadi yang berani jujur tentang luka batinnya. Dan mungkin, keberaniannya membuka diri soal terapi justru jadi warisan yang lebih penting daripada Oscar sekalipun.